Read Critical Eleven by Ika Natassa Online

critical-eleven

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.In a way, it's kinda the same withDalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya....

Title : Critical Eleven
Author :
Rating :
ISBN : 9786020318929
Format Type : Paperback
Number of Pages : 344 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Critical Eleven Reviews

  • Eka Situmorang-Sir
    2018-11-18 08:33

    Saya tidak bisa memberikan bintang untuk buku ini. This book is a joke. Clearly written by someone who never got pregnant and lost a baby before. Tertarik membaca buku ini karena beberapa teman mengatakan buku ini bagus walau ada juga yang bilang enggak. Hmm, kontra. Saya suka yang kontra dan ingin membacanya agar saya punya opini sendiri. Kisahnya berpusat pada Tanya dan Alle. Sepasang suami istri yang menikah setelah pertemuan tak sengaja di pesawat. Kisah cinta manis yang penuh bumbu cinta (dan seks). Namun kemudian hubungan tersebut menjadi dingin setelah Tanya kehilangan bayinya di usia kandungan 9 bulan. Seharusnya mereka menghadapi hal ini bersama-sama kan? Tapi satu ucapan menusuk dari Alle membuat Tasya memilih pisah ranjang dan mendiamkan Alle selama berbulan-bulan. Kemudian satu perbuatan Alle membuat Tanya luluh dan mereka baikan. Itu aja sih inti ceritanya.Ada banyak hal yang menurut saya nggak masuk akal di novel ini. Tanya kehilangan bayinya saat berusia 9 bulan dan ia berkabung dengan tidur di kamar anaknya, dengan membawa-bawa kaos kakinya. Kalo untuk yang keguguran di trimester pertama atau kedua mungkin bisa begitu tapi usia 9 bulan? Ya ampun.... Serius nih? Berkabungnya begitu? Itu sakit setelah melahirkan nggak disebut sama sekali? Itu payudara bengkak karena ASI yang siap menetes nggak disebut sedikitpun? Padahal untuk kehamilan usia 9 bulan maka tubuh ibu sudah bersiap mengeluarkan ASI, kalo bayinya meninggal bukan berarti ASI tidak diproduksi. Bayinya hidup atau tidak, tubuh ibu tidak tau, yang ia tau bayi sudah lahir dan harus produksi ASI. Dan ASI yang tidak dihisap oleh bayi akan membuat payudara ibu bengkak, menetes terus, bisa bikin pusing bahkan dalam beberapa kasus (kalau tidak diberi obat) maka bisa bikin si ibu pingsan bahkan mesti operasi karena payudaranya mastitis. Itu, itu sangat menyakitkan.A mom who lost a baby at that age would be overwhelmed dealing with their body first rather than just staring at baby clothes. Her body would be a constant reminder of loosing a child rather than a sock!Dan suami yang memang melihat hal perjuangan istrinya mengatasi tubuhnya terlebih dulu, biasanya lebih bisa berempati.Ah, tapi sudahlah. Mungkin mbaknya kurang riset di situ. Tapi hal kedua yang menampar saya adalah pusat dari konflik novel ini: sebuah pernyataan ringan dari suami ke istrinya. "Mungkin jika kamu nggak terlalu capek maka bayi kita masih hidup."Iya, kalau buat yang nggak pernah mengalami hal ini tentu akan sepakat bahwa kata-kata Alle itu menyakitkan dan pantas kalau Tanya mendiamkan Alle hingga berbulan-bulan lamanya.Tapi coba tanyakan ke yang sudah pernah kehilangan calon bayi. In the moment of grieve would that question even matter? The heart was numb, the mind was wandering, we were a zombie, a soulless living creature full of guilt! I doubt that kind of question can shake my world. Adding a little hurt to the open wound, perhaps. Tapi pertanyaan itu tidak akan menjadi semacam mata tombak muara semua perselisihan. Tidak. Yeah, I'm speaking from my experience. That's why this book becomes so personal to me.Other thing that shocked me was, ada bagian dari buku ini yang menuliskan banyak harga untuk barang-barang yang ada. Yang paling saya ingat harga $4000 untuk sebuah jam tangan sebagai hadiah ulang tahun. Dan Alle mengingat bahkan menyebutkan jam itu beberapa kali dalam kumparan ingatannya tentang kehilangan anak mereka. Saat membacanya... I was like... WTF... Seriously? A price is inserted in this kind of topic? Like expensive thing would be something I care after loosing a child? Hell with pricey thing, I would even give my neck just to see my child alive. Pricey thing would be the least on my list to talk about.And the ending.... After a long unbelievable speechless reading, I expect a lot from the ending. I thought there will be a deep discussion or at least a reconciliation. Ternyata, hamil lagi adalah solusi yang dipilih sebagai alat rekonsiliasi. Hmmmm. Tidak semudah itu. Luka ya luka. Kehilangan ya kehilangan. Tidak bisa digantikan dengan hamil lagi. itu kisah lain yang beda chapter. Memangnya permen? Ilang satu lalu beli lagi? Ini janin! Anak manusia, ada attachment berbeda dari ibu untuk setiap anaknya. Tapi penutupnya begitu doang.This book seems very hard to look sophisticated and complicated. Trying so hard to present some "interesting" facts but... Not. To me those just boring facts. I dragged my self to finish this book for the sake of what other foolish thing can happen here. I really wanna know how grieve and couple's fight due to loosing a baby presented here and all I can say is... This book is a humiliation to those who mourn for their unborn baby. Yup, humiliation is the right word :( you don't know a thing about loosing a baby, not a thing! And you wrote about this like you know it all.Saya jarang, jaraaang sekali memberikan komen buruk untuk suatu novel karena saya percaya bahwa tidak ada buku yang buruk, yang ada bukunya mungkin nggak cocok aja seleranya sama yang baca. Lagian kalo disuruh nulis begini, ya belum tentu bisa. Tapi untuk yang ini saya baper. Sepertinya kisah kehilangan calon anak ini hanya menjadi TEMPELAN background dari kisah cinta di novel ini. Dan buat saya, itu tidak sensitif. Menyakitkan.

  • Daniel
    2018-10-20 10:35

    I don't wanna create a war on my Goodreads account, so I'm sorry if I only write the review on my blog and I write in English. http://reviewbukudaniel.blogspot.co.i...

  • ijul (yuliyono)
    2018-11-08 05:29

    Ahh, kenapa gambaran Sefryana Khairil yang melambai-lambaikan novel Rindu di depan hidung saya yang terus-menerus membayang di pelupuk mata saya selama proses pembacaan Critical Eleven ini? Oh, Tuhan. Celakanya, saya bahkan belum menamatkan Rindu itu. Saya baru baca sinopsis dan (seingat saya) seperempat bagian novel itu. Tapi, kemiripan premis Rindu dengan Critical Eleven ini memang bedebah banget, ya. Bikin saya agak moody baca Critical Eleven. Dua-duanya berkisah tentang pergulatan batin untuk berdamai dengan rasa kehilangan. Bahkan, objek kehilangannya pun sama. Huffft.Anyway, sebelumnya saya perlu mengucapkan terima kasih kepada Venty S yang out of nowhere, tiba-tiba mengirim surel ke [email protected] dan menanyakan apakah saya berminat membeli novel Critical Eleven hasil PO-nya itu. First of all, saya agak ragu, masak iya ada yang sudah susah-susah PO lalu dioper ke orang lain, kan? Jadi, sambil menata hati (kalau-kalau ternyata sekadar iseng) saya menjawab oke saja, dan setelah chit-chat singkat di surel, kami bersepakat. Dan, di awal masuk kantor lagi (di ujung libur Lebaran 2015) novel ini sudah berhasil sampai ke saya (yang akhirnya kelar saya baca beberapa hari kemudian). Again and again, makasih ya, Venty. Kamu baik banget.Novel ini masih khas Ika Natassa. Dan, gue banget. Maksudnya, novel ini sudah barang tentu masuk kategori my cup of coffee. Gampang diteguk. Membasah di kerongkongan. Dan, menghangat di perut. Nyaman. A page-turner. Langsung dijejer di rak koleksi.Buat yang baru kepikiran pengin baca tulisan Ika Natassa, maka bersiaplah. Jika merasa kemampuan berbahasa Inggris masih biasa-biasa saja (seperti saya), paling tidak siapkan Google Translate atau kamus bahasa Inggris-mu. Hitung-hitung persiapan jikalau ada satu-dua dari banyak bagian novel ini yang ditulis dalam bahasa Inggris mesti kamu pahami artinya dalam bahasa Indonesia. Dengan sudut pandang orang pertama antara Tanya "Anya" Laetitia Baskoro dan Aldebaran "Ale" Risjad, yang langsung dibedakan dengan menulis nama "Anya" atau "Ale" di awal setiap bagian, kisah romantis antara konsultan manajemen dan insinyur perminyakan ini memang seperti bahasa percakapan sehari-hari. Di beberapa tempat, malah seperti curhat dengan gaya menulis buku catatan (diary). Lo-gue, aku-kamu, dengan selipan bahasa Inggris gado-gado di sana-sini. Tenang saja, bahasa Inggris-nya masih dengan vocabulary yang mudah dipahami, kok. Kamus tadi sekadar buat persiapan saja, kali-kali kamu butuh.Apakah kamu suka tulisan yang (agak sedikit) menggurui? Atau yang ditulis seolah-olah penulis berwawasan luas? Critical Eleven buat saya hadir dengan kesan agak seperti itu. Apakah saya mengeluhkan hal ini? Tidak sama sekali. Saya justru menyukai tulisan fiksi yang berisi beragam fakta yang menambah wawasan buat pembacanya (paling tidak, buat saya). Selain soal keseharian profesi Anya dan Ale, di dalam Critical Eleven ini juga banyak pemikiran-pemikiran modern mereka yang entah menyuplik dari buku, film, atau lagu, yang cukup asyik untuk diikuti. Yah, ini saya hanya sekadar memberitahu. Siapa tahu ada yang agak kurang nyaman dengan gaya bercerita macam begitu, kan?Oh, satu hal lagi. Dalam Critical Eleven ini Ika benar-benar memanisfestasikan kegemarannya ber-traveling (atau ide ber-traveling). Selain dengan sengaja menyediakan dua halaman penuh (di akhir cerita) yang menjabarkan makna traveling menurut versinya, sepanjang mengisahkan romansa Anya dan Ale pun dia suka sekali membawa pembaca berjalan-jalan (paling tidak, lagi-lagi, buat saya). Ibaratnya, ketika hendak menyetop taksi di jalan besar di ujung sana Ika tidak langsung mengajak kita berjalan lurus ke jalan besar itu tapi kita dibawa memutar, berkeliling dulu, masuk-keluar gang kecil, sebelum akhirnya sampai di jalan besar.Contohnya, adegan Ale yang diminta mengantar ayahnya ke kebun kopi keluarga, dalam benaknya Ale lalu menceritakan tentang kebun kopi, tentang hubungan dengan ayahnya, tentang cita-citanya, begitu seterusnya (yang bagi saya terkesan berputar-putar) sebelum adegan sebenarnya mereka sampai di tanah perkebunan dideskripsikan. Hmm, paham maksud saya, kan? Paling sering, kenangan-kenangan akan suatu kejadian yang dijadikan gang kecil untuk kita lalui. Honestly, kadang saya memang bosan, sih. Akhirnya saya skimming bagian yang menurut saya "teknik memutar ala Ika" dan langsung to the point ke adegan inti yang disiapkan oleh Ika. Apalah saya ini, terkadang memang begitu, jadi pembaca yang enggak sabaran. Dan, pembosan. Maaf.Namun, Ika Natassa tetaplah Ika Natassa. Meski saya sempat nggerundel soal sikap Anya dan Ale yang katanya sama-sama cinta mati, masak cuman karena kekhilafan satu kali, harus sebegitu lamanya masalah itu tak terselesaikan, tetap saja saya dibikin haru dan bahagia selepas merampungkan-baca novel ini. Well, mungkin karena saya sendiri belum pernah mengalami "memendam luka" seperti itu sehingga saya enggak paham. Atau, saya sendiri belum pernah punya hubungan romantis dengan seseorang yang berumur selama itu sehingga ketika ada masalah tidak bisa langsung dipecahkan. Omong-omong tak bisa protes juga, sih, soalnya berkali-kali digambarkan Anya dan Ale sendiri tak paham dengan sikap mereka, hehehe. Masing-masing saling mempertanyakan diri mereka sendiri.Buat penggemar tulisan Ika Natassa, berbahagialah, karena banyak cameo dari novel-novelnya yang lain yang hadir di sini. Semoga ini bukan spoiler, tapi untuk berjaga-jaga buat kamu yang menganggap ini spoiler, jangan baca ini.Overall, saya tetap suka kok dengan novel ini, meski agak campur aduk. Saya suka karakter para tokohnya, setting, penggambaran latar belakang profesi para tokohnya, kemunculan para cameo, subplot yang kaya, dan pemikiran-pemikiran fresh yang bikin manggut-manggut. Saya kurang suka dengan kemiripan premis, teknik berputar-putar, dan eksekusi soal "bicaranya Anya dan Ale" serta ending-nya. Palang parkiran error, hello? Sementara itu, untuk typo tak banyak tapi tetap ada: hlm 15: this is neither good or bad --> this is neither good nor bad hlm 97: limahkan --> limpahkan hlm 321: sewaaan --> sewaanMungkin masih ada yang lain, tapi saya khilaf, tak memperhatikan, hehehe. Oiya, omong-omong untuk edisi PO ini, logo metropop-nya sengaja enggak dicantumkan, ya? Atau kelupaan karena buru-buru cetaknya?Pada akhirnya saya bimbang, antara suka dan biasa saja, antara 3,5 atau 4 bintang. Tapi, dengan gaya menulis yang bikin saya betah memelototi halaman demi halaman hingga akhir tanpa banyak mengeluh, 4 out of 5 star untuk Critical Eleven.Selamat membaca, tweemans.

  • Anna O.P.
    2018-11-04 09:45

    Oke, saya gak menyelesaikan baca buku ini. Gagal total. Menurut saya buku ini overrated, dan saya nyesel keluarin duit buat beli. Buat saya, redeeming factor-nya adalah sampul buku yang sangat menarik dan beberapa halaman pertama yang kedengeran agak "nyastra" dan dengan demikian tampak menjanjikan. Tapi selepas itu, wah... membosankan.Tapi sebetulnya yang bikin kesel adalah, plot buku ini sama sekali ga ada hubungannya dengan pesawat, penerbangan, atau perjalanan. Padahal sampulnya (yang bagus itu) menampilkan pesawat terbang dan judulnya "Critical Eleven" pun merupakan sebuah konsep dalam penerbangan. Biasanya apa yang digambarkan di sampul adalah adegan, benda, atau tokoh yang memiliki peran atau makna signifikan dalam cerita. Tadinya saya pikir "Critical Eleven" berkisah tentang percintaan atau sedikitnya persahabatan antara, misalnya pramugari dan pilot, atau pramugari dan penumpang, atau penumpang dan penumpang, yang adegannya banyak mengambil lokasi di atas pesawat, di bandara, di institut penerbangan, dll yang berkenaan dengan dunia aviasi.Ternyata enggak. Sama sekali enggak kayak gitu. Pesawat cuma berperan di awal cerita doang, dan gak terlalu signifikan sebetulnya. Buat saya masih kurang penting untuk dijadikan sebagai "penjual" di sampul. Jujur rasanya kayak ditipu mentah-mentah.Terakhir, menurut saya ceritanya bisa dipangkas dan diringkas sehingga ga perlu setebal ini. Jangan salah, saya gak anti dengan buku tebal. Malah, saya senang baca buku tebal-tebal, asalkan memang ketebalannya itu necessary. Saya gak suka buku yang ditebal-tebalin biar kelihatan berbobot. Nah, menurut saya, banyak adegan di "Critical Eleven" yang bisa dihilangkan atau diringkas. Sori nih ya, tapi penulis terasa seperti sedang pamer teknik kepenulisan. Seakan mau bilang, "Nih, gue bisa mendeskripsikan pasutri lagi musuhan dalam 1001 cara." Awalnya mungkin menarik, tapi lama-lama bikin frustrasi.

  • Riz
    2018-11-05 04:39

    2.5 Stars Akhirnya ngeriviu ini juga.... Nah, ini riviu panjangnya (dan kayaknya ini riviu terpanjang yg pernah gua buat) :Cerita ini mengisahkan tentang kehidupan rumah tangga Ale dan Anya dan permasalahan dalam rumah tangga mereka yang nyaris membuat mereka berpisah (oke, yang pengen pisah cuma si Anya, si Ale keukeuh gak mau)Gua akan menjabarkan kesan negatif dan positif setelah baca buku ini. Sekarang kesan negatif dulu.Ada beberapa hal yang mengganggu dan kurang sreg di gua. Dan ini berdasarkan pendapat pribadi gua, jadi sangatlah subyektif. So, kalo ada yang ga setuju, maka hargailah perbedaan karena perbedaan itu indah~~ehehehehePertama, gua ga suka karakter si Anya. Duh gusti, masalah yg dia (Anya) alami emang berat, tapi puhlease, kok jadi istri begitu cepat dan lamanya tersinggung sama salah ucap suami (si Ale) sampe ngediemin si Ale 6 bulan bahkan nyaris menceraikan Ale?Emang sih omongan Ale itu nyelekit apalagi di saat dia dalam masa yg rapuh (ga usah dikasih tau ya apa, baca aja kalo penasaran :P), tapi hellooo, sampe selama itukah? Kayaknya kelewat berlebihan deh. Lagian selain itu si Ale suami yg baik banget loh. Ck. Sebel.Kedua, Masih masalah si Anya yg supeeeer dupeeer sensitif dan rapuh. Di sini gua heran lho, yah biasanya kan yang salah satu hal yang paling banyak kontribusinya dalam membentuk karakter seseorang itu kan dari pengalaman masa kecilnya dan pengaruh lingkungannya ya. Nah, Anya jadi berkarakter begitu tuh mengherankan buat gua, soalnya di situ (walaupun gak detil) digambarkan kalo keluarganya itu merupakan keluarga yang baik-baik aja, dia juga tumbuh dari lingkungan yang “sehat”. Dia juga dibilang sempat kuliah di luar negeri dan bertahan di sana plus karirnya yang bagus tapi penuh tekanan (dan dia kuat dengan kerjaan itu) mengesankan dia itu wanita yang resilient. Tapi kenapa yg terlihat malah sebaliknya, dia malah kelihatan rapuh, bukannya bangkit tapi tetapi malah seakan mengubur dirinya dan masalahnya? Janggal aja menurut gua. Sebaiknya diperdalam di bagian ini biar pembaca ga terheran-heran dan bingung dengan karakter Anya yang menurut gua ambivalent ini.Ketiga, konfliknya kurang kuat dan dalam, masih cukup dangkal buat buku yang tergolong tebal ini. Endingnya juga aneh, berasa terburu-buru. Ga puas.Ke empat, kayaknya penulis ini bikin tulisan yang masih berada di comfort zone-nya, dengan beberapa pola yang terlalu mirip antar bukunya. Jujur, bikin gua bosan.Kelima, gua kurang bisa masuk ke ceritanya, kurang dapet feel-nya. Mungkin karena udah kadung kesel sama si Anya kalik ya eheheheh.Sekarang gua mau memberikan kesan positifnya ya mengenai buku ini.Penulis memasukkan beberapa info dan pengetahuan tambahan dalam buku ini, seperti memasukkan konsep mengenai memori dan lain-lain (katanya sih penulis ini emang baca jurnal dan riset dulu). Ini gua suka, nambah wawasan dan pengetahuan. Makanya gua tambahin 1 bintang di novel ini.Penulisannya rapi, bagus. Walaupun gara-gara gua udah ga terbiasa baca novel nyampur antara bahasa Indonesia plus Inggris, jadi agak kurang nyaman aja sih bacanya.Dan terakhir, gua sempet berkaca-kaca baca konfliknya, biar gimanapun, sediih bray. Gua emang belum nikah apalagi…….., tapi pasti berat bagi pasangan manapun kalo menghadapi konflik macam itu. Bagian ini membuat gua ngasih tambahan setengah bintang lagi.Overall, menurut gua ceritanya masih belum cukup matang dan perlu banyak tambalan sana-sini. Perlu diperdalam lagi.

  • Ifnur Hikmah
    2018-10-20 10:35

    Maybe this is the most anticipated book of the year. Gimana enggak, teaser demi teaser yang dikeluarkan Ika selama 2 tahun akhirnya terbayar ketika kita bisa PO. Enggak nyangka bisa dapat (sempat ada dramanya juga hihi).Mungkin, karena title the-most-anticipated itu juga aku jadi memasang high expectation untuk buku ini. Come on, ini masterpiece terbarunya Ika gitu. Buku dia enggak pernah enggak bikin kagum (kecuali Twivortiare 2 yang jujur aja aku enggak minat). Karena itu, jadi enggak sabar buat baca.Pertama-tama, aku enggak punya gambaran soal isi ceritanya kayak apa. Oke... sejujurnya, aku sempat menebak-nebak dengan tebakan klise some guy and some girl ketemu di bandara berkali-kali lalu kisahnya berlanjut di bandara. Or the handsome passenger with beautiful stewardess. Tapi, ketika baca, ternyata temanya enggak se-shallow bayanganku. Enggak nyangka kalau Ika menyorot masalah pernikahan. Di awal-awal, sempat bertanya-tanya apa yang membuat Tanya dan Ale jadi seperti orang asing.Ternyata...Dealing with grief. Tema yang mungkin biasa tapi jadi luar biasa karena cara Ika menyampaikannya yang luar biasa. Ya udah sih ya, kalau urusan gaya menulis enggak usah dibahas. Aku masih suka dengan gaya menulisnya Ika yang lugas dengan suguhan informasi di sana-sini. Dan, suguhan itu enggak terkesan menggurui. Mungkin beberapa orang merasa keberatan, bilang Ika show off dengan semua name dropping-nya itu. But i'm fine with that.Cara Ika membangun chemistry antara Tanya dan Ale juara. Kerapuhan mereka, pergolakan bathin mereka. Aku suka. Ika berhasil menggambarkan konflik bathin Tanya dan Ale, masing-masing dengan cara yang berbeda. Susah lho nulis dari sudut pandang cowok, dan Ika berhasil.Jadi, apa aku suka dengan novel ini?I like it. Tapi, enggak terlalu menikmatinya.Why?Simply because of the characters.Tanya dan Ale enggak jauh beda dengan karakter Ika sebelumnya. Keberatanku sama kayak tokoh-tokohnya Christian Simamora yang selalu berada di pakem itu. Tanya kerasa kurang istimewa karena aku melihat ada Keara di sana, ada Alex juga. Ale pun juga, ada Beno dan Ruly di sana. Makanya, ketika aku siap-siap untuk dibikin kesengsem sama Ale, ternyata enggak karena aku melihat dia sebagai Beno dan Ruly. MUngkin Ika harus keluar dari pakem cool-independent-modern kind of girl dan cowok-pendiam-tapi-romantis. Buat pembaca baru, karakter ini mungkin biasa-biasa aja, tapi buat yang mengikuti Ika dari awal, lama-lama bosan juga disuguhinya yang begini-begini terus (untung Tanya enggak bankir haha).Oh, sepertinya Ika kecele di novel ini. Bagian Tanya bilang dia suka toko buku dan toko buku dengan segala keberagamannya, itu kan pernah dibikin di Antologi Rasa bagian Ruli?Jadi, kesimpulannya, aku suka Critical Eleven tapi enggak terlalu menikmati. Sejauh ini, favoritku dari Ika tetap Antologi Rasa.(Oh bahkan di sini Harris lebih mencuri perhatian dibanding Ale).

  • Rizky
    2018-11-11 06:27

    Akhirnya, selesai juga menemani kisah Ale dan Tanya...Rasanya antara lega kisahnya berakhir sesuai harapanku dan agak tidak rela sudah harus menutup halaman novel ini. Novel yang sanggup membuatku jungkir balik menahan perasaan selama proses membacanya, ini novel paling favoritku dari semua novel Kak Ika Natassa yang pernah kubaca.Aku benar-benar merasakan ikatan dan emosi yang kuat sekali, bisa merasakan semua perasaan yang berkecamuk diantara Ale dan Tanya. Pertemuan pertama mereka di pesawat Jakarta-Sidney hingga kemudian pertemuan berikut dan berikutnya hingga tidak membutuhkan waktu lama untuk memutuskan menikah. Semuanya berjalan aman-aman saja, saling mencintai dan memiliki satu sama lain, hingga badai itu datang tidak kira-kira menghancurkan semua yang pernah ada diantara mereka....Diceritakan dari sudut pandang Tanya dan Ale, aku benar-benar merasakan perasaan mendalam satu sama lain. Cinta yang begitu besar diantara keduanya, hingga sebuah kalimat dari Ale yang akhirnya meluluhlantakkan fondasi pernikahan mereka, tidak ada lagi kebahagiaan, antara ada dan tiada, hidup seatap tapi rasanya bagai orang asing. Ingin merengkuh tetapi ingin menolak, pergolakan batin yang luar biasa...Awalnya aku dibuat gregetan dengan sikap Tanya, kemudian berpindah ke Ale, aku ikut sedih saat badai itu datang dan aku tahu sekali rasanya. Kak Ika Natassa benar-benar bisa merajut cerita Tanya dan Ale dengan sangat baik, sebagai pembaca aku dibuat ikut merasakan semua yang terjadi pada pasangan ini. Dari segi cerita mungkin ini cerita yang biasa, tetapi di tangan Ika Natassa kisah ini menjadi sangat istimewa, sayangnya menjelang ending aku merasakan ini berakhir terlalu cepat...Rasanya dengan semua yang terjadi berbulan-bulan terhadap kedua pasangan ini, aku menginginkan sesuatu yang jauh lebih dari ini, tetapi aku ikut bahagia dan lega sekali rasanya, semua berakhir sesuai harapanku.Terima Kasih, Kak Ika Natassa for writing this beautiful novel^^

  • bakanekonomama
    2018-10-20 11:41

    Seperti yang pernah saya sampaikan dalam review saya untuk novel "Sunset Bersama Rosie", saya tidak suka buku yang sengaja mendramatisir tragedi untuk dijadikan sebuah kisah yang menyayat-nyayat hati. Buku ini salah satunya. Meskipun kalau mau dibandingkan, sesungguhnya penderitaan si tokoh utama perempuan, Anya, tidaklah seberat dan setragis penderitaan Rosie. Awalnya saya bertanya-tanya, apa yang membuat rumah tangga Ale dan Anya jadi berantakan begitu. Setelah mengetahui penyebabnya, saya merasa bersimpati kepada Anya dan bisa merasakan kemarahannya kepada Ale. Namun, ketika luka Anya itu dibumbui sedemikan rupa sehingga kehilangan rasa aslinya, saya merasa muak. Saya justru tidak bisa lagi bersimpati kepada penderitaan Anya, karena meskipun saya belum pernah merasakan apa yang dialaminya, tapi saya bisa jamin bukan dia satu-satunya perempuan di dunia ini yang pernah merasakan hal itu!Saya adalah seorang yang buruk dalam berkomunikasi. Saya sulit sekali menyampaikan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan dalam kata-kata. Dulu lebih buruk, tapi sekarang sudah jauh lebih bisa mengungkapkan kekesalan, kemarahan, dan kejengkelan hati saya--yang dulu biasanya selalu saya telan sendiri. Saya pernah bertanya-tanya kepada diri saya, bagaimana kalau ketika saya menikah nanti, saya memiliki permasalahan dengan suami saya, dan saya tidak bisa menyampaikannya? Apakah saya akan mendiamkannya saja hingga permasalahan hilang dengan sendirinya (yang jelas nggak mungkin bakal hilang sendiri)? Ataukah saya akan berharap sang suami akan sadar dengan kesalahannya sendiri, yang tentu saja merupakan hal yang sulit, sesulit mengumpulkan tujuh bola naga. Apalagi belum tentu kesalahan itu murni berasal dari sang suami. Bagaimana kalau justru sayalah sumber masalahnya? Ah, berkonflik itu adalah hal yang sulit bagi saya si plegmatis introvert. Namun, saya sadar kalau kunci hubungan yang baik adalah komunikasi. Dan saya bersyukur sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa memancing saya untuk bisa berkomunikasi dengan lebih baik, sehingga semoga itu bisa menjadi modal saya ketika saya sudah menemukan pendamping hidup nanti. Nah, si Anya ini, mengalami kemunduran seperti saya jaman dulu (sulit berkomunikasi, menghindari masalah, bahkan berharap masalah akan "abrakadabra" beres dengan sendirinya), setelah trauma yang dialaminya. Tentu itu wajar, jika ia ingin mengambil jarak dengan suaminya agar dapat berpikir dengan jernih. Tapi jika proses itu berlangsung hingga enam bulan, tanpa memberikan Ale kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka? Saya rasa itu sangat berlebihan. Apalagi ketika otak melankolis dan mental victim Anya menyalahkan dirinya yang jatuh cinta pada Ale hanya dalam seminggu saja. Ya, terus kenapa kalau seminggu lalu jatuh cinta? Toh mereka berpacaran dulu selama setahun sebelum akhirnya menikah, dan kehidupan pernikahan mereka sangat bahagia dan baik-baik saja dalam 3-4 tahun pertama. Mungkin ketika orang terlalu sedih, dia akan mengambil alasan apapun untuk membuat dirinya lebih tenang. Ya, oke. Saya bisa menerima.Selain tragedi yang terlalu didramatisir, saya juga tidak suka dengan dualisme yang ditampilkan tokoh Ale dan Anya. Di satu sisi penulis menyampaikan betapa religiusnya mereka, yang maunya makan makanan halal, menyempatkan sholat di sela-sela kencan, berdoa kepada Tuhan hingga meratap-ratap, tapi di sisi lain mereka minum wine, memelihara anjing hingga ke kamar tidur, dan marah serta menggugat Tuhan. Tentu saja wajar jika seorang manusia merasa bersedih atas musibah yang dialaminya, tapi apakah pantas kita menggugat Sang Maha Pencipta karena kebodohan kita yang tidak bisa memahami rahasia takdir-Nya? Jadi, wajar saja jika hidup mereka menjadi kacau, karena ada kesan mereka baru kembali kepada Tuhan ketika musibah menghampiri. Itupun bukan untuk bertaubat, memohon, menghamba, dan merasa kecil di hadapan-Nya karena selama ini menjadi manusia yang penuh dosa, tapi justru untuk menggugat, mencari pembenaran, dan merasa diri tidak pantas ditimpa musibah semacam itu. Padahal, apalah kita merasa diri tidak pantas ditimpa musibah, padahal tingkat kesolehan kita pun tidak sampai seujung kuku orang sholeh jaman dahulu, apalagi kalau mau disejajarkan dengan Nabi dan Rasul! Sungguh egois, tidak tahu diri, dan sangat tidak bersyukur!Jadi, itulah kesan saya setelah membaca novel Ika Natassa ini. Novel keduanya yang saya baca, yang saya kasih satu bintang lebih banyak dari novel sebelumnya. Dorongan saya untuk membaca novel ini bisa dibilang cukup impulsif. Saya gatal melihat novel ini selalu muncul ketika saya membuka iJak dan melihat antreannya yang lebih panjang dari antre sembako. Ketika melihat ada perpustakaan digital yang masih menyediakan buku ini, tanpa pikir panjang langsung saja saya unduh. Saya merasa, gaya bercerita Ika di sini jauh lebih baik daripada "Antologi Rasa" yang dalam beberapa halaman saja sudah membuat saya jera. Novel ini masih berkutat dengan gaya hidup hedon dan tokoh-tokohnya yang sering sekali pakai bahasa Inggris dalam percakapan sehari-harinya, meskipun sama-sama orang Indonesia. Yah, walaupun itu tidak menggambarkan Indonesia secara umum dan hanya menampilkan potret orang-orang menengah ke atas di negeri ini, tapi sudahlah. Saya sudah kenyang mengomentari gaya bahasa Ika di novelnya sebelumnya. Di dua novel Ika yang sudah saya baca ini, dua-duanya memiliki gaya bercerita yang sama, diceritakan sesuai isi kepala per tokohnya. Untungnya di sini hanya dua, jadi saya tidak sakit kepala. Sesungguhnya, saya tidak terlalu suka dengan gaya bercerita seperti ini, tapi karena kali ini saya merasa kalimat-kalimat dan pilihan kata Ika begitu lancar dan cukup bisa dinikmati, saya bisa menerimanya.Apakah setelah ini saya akan membaca karya Ika Natassa lagi? Entahlah. Setelah dua buku ini, saya merasa dunia kami terlalu berbeda dan saya tidak terlalu bisa menikmati karyanya. Jadi, mungkin tidak kali ya....

  • Sulis Peri Hutan
    2018-10-30 07:50

    Mengetahui Ika Natassa sedang menulis buku terbaru pasca Antologi Rasa kurang lebih dua tahun yang lalu, bahkan Twivortiare 2 belum rencana terbit, saya sangat tidak sabar untuk segera membaca, kangen tulisan Ika yang bukan kumpulan tweet. Begitu baca cerpen Critical Eleven di Autumn One More, buku ini langsung menjadi buku yang wajib dibaca dan dikoleksi, menjadi salah satu buku yang sangat saya nanti-nantikan. Ditambah promosi yang dilakukan penulis, sebuah cerpen beberapa tahun sebelum terbit, beberapa bulan mendekati pre-order penulis menggoda pembaca dengan kumpulan foto dan cuplikan kalimat di buku, membuat pembaca sangat penasaran dan sangat tertarik ingin segera memiliki. Nggak heran 1.111 buku langsung ludes hanya dalam hitungan menit, semua dipersiapkan dengan sangat matang, mulai dari cerita, kemasan dan penjualan.Sewaktu membaca cerpen Ctitical Eleven di Autumn One More, yang menjadi bab pertama buku ini serta ada sedikit penambahan, saya menebak cerita nggak akan jauh-jauh dari LDR, melihat profesi kedua tokoh utama yang memaksa mereka harus tinggal jauh, Aldebaran Risjad berprofesi sebagai petroleum engineer, menghabiskan waktunya 5/5 di Teluk Meksiko, lima minggu kerja dan lima minggu libur. Sedangkan Tanya Laetitia Baskoro adalah seorang management consultant tinggal di Jakarta dan tidak jarang terbang ke berbagai kota atau negara lain. Namun, dugaan saya ternyata salah besar, langkah Ika benar-benar tidak bisa saya tebak kemana cerita akan dibawa, baru di bab 5 lah kita akan jelas dengan apa yang disembunyikan penulis. Dengan menggunakan alur maju mundur, kita akan dibawa ke masa sekarang, lima tahun sejak mereka pertama bertemu di pesawat dan masa sebelum masalah terjadi. Kemudian kembali ke masa setelah mereka menikah, ketika telah menjadi orang asing satu sama lain.In a way, I think it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari segi kesan pertama, right? Senyumnya, gesture-nya, our take on their physical appearance. Semua terjadi dalam tiga menit pertama. And then there's the last eight minutes before you part with someone. Senyumnya, tindak tanduknya, ekspresi wajahnya, tanda-tanda apakah akhir pertemuan itu akan menjadi "andai kita punya waktu bareng lebih lama lagi" atau justru menjadi perpisahan yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi.Awalnya pernikahan yang dilangsungkan tidak lama setelah berkenalan, hanya setahun, tidak beda dengan pasangan lain. Walau harus tinggal berpisah selama beberapa waktu setiap bulannya, pernikahan mereka sangat bahagia, Ale dan Anya sudah yakin dengan perasaan mereka, bahwa mereka memang ditakdirkan untuk satu sama lain. Lalu sebuah tragedi menimpa pernikahan mereka, sebuah kehilangan yang sama-sama membuat mereka berdua terluka. Puncaknya adalah perkataan Ale kepada Anya, membuatnya sangat kecewa dan terluka, sejak saat itu dia tidak pernah merasakan apa itu bahagia, tidak yakin akan tujuan mereka bersama selanjutnya sehingga dia ingin mengambil jarak dengan Ale. Ale pun hanya bisa menjauh, sesuai permintaan Anya, hanya sebatas itu saja, dia tidak bisa kalau berpisah, dia akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahannya.Gaya bercerita penulis masih khas, lugas, bahasa campur aduk dan informatif, lebih menginggatkan saya ketika membaca Divortiare, alurnya sama dan lebih banyak narasi daripada dialog, sering menginggat masa lalu. Bedanya sang narator dari sudut pandang orang pertama, Anya dan Ale secara bergantian, sama seperti di Antologi Rasa. Keunggulannya perasaan tokoh akan mudah kita pahami. Walau ada beberapa bagian yang menjadi repetitif, sepertinya penulis ingin menekankan perasaan masing-masing tokoh dalam satu waktu, dan itu sukses sekali. Ketika membaca buku ini saya bisa merasakan kehilangan Anya, betapa kecewanya dia terhadap Ale, ingin sekali melupakan namun tidak bisa. Sedangkan Ale sendiri, dia membuat kita sebagai pembaca akan berempati kepadanya, bertapa besar cintanya untuk Anya, usahanya untuk mendapatkan maaf, ingin memulai dari awal lagi."Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu."Hidup memang tidak pernah sedrama di film, tapi hidup juga tidak pernah segampang di film. Ujian keimanan seorang laki-laki itu bukan waktu digoda oleh uang, perempuan, atau kekuasaan seperti banyak yang dikatakan orang-orang. Ujian keimanan itu sesungguhnya adalah ketika yang paling berharga dalam hidup laki-laki itu direnggut begitu saja, tanpa sebab apa-apa, tanpa penjelasan apa-apa, kecuali bahwa karena itu sudah takdirnya.Marriage is a little bit like gambling, isn't it? Bahkan lebih berisiko daripada berjudi. Waktu kita duduk di depan meja poker atau blackjack atau dice, kita bisa memilih ingin mempertaruhkan seberapa banyak. Sedikit, sepertiga, setengah, atau semua, kemenangan yang bisa kita peroleh atau kekalahan yang harus kita tanggung semua tergantung dari seberapa besar risiko yang berani kita ambil. Tapi pernikahan tidak begitu. saat kita duduk di depan meja penghulu dan melaksanakan ijab kabul, semua kita "pertaruhkan".In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there's nothing sadder than that.Kalau ditanya tokoh favorit di buku ini, tentu saja Ale, walau tetap Harris yang nomor satu, hehehehe. Walau karakternya nggak jauh beda dari tokoh rekaan Ika Natassa sebelumnya, tetap saja menjadi kategori book boyfriends, mungkin sudah menjadi ciri khas penulis. Nggak sekali ini menemukan penulis yang tokoh buatannya memiliki karakter hampir sama seperti di buku-buku sebelumnya, dan hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah bagi saya. Ale ini nggak playboy seperti Harris, nggak selempeng Beno, dia cool, pendiam tapi nggak cuek, suka serius, suka main lego dan sangat terencana. Salah satu contoh adalah ketika dia ingin menikahi Anya. Sebelum melamar, Ale udah membangun rumah, menghabiskan tabungannya dan membayar sendiri pesta pernikahannya, bahkan dia mengembalikan semua uang kuliah kepada ibunya, Ale punya sejarah buruk dengan ayahnya, membangkang dari profesi pilihan ayahnya dan membuat hubungan mereka nggak baik sampai Ale menikah dengan Anya. Bertanggung jawab banget, kan? Anya sendiri sedikit digambarkan sebagai wanita lemah, manusiawi banget kok, kalau kita diposisi Anya, kita akan melakukan hal yang sama, mencoba berdamai dengan kehilangannya.Kalau ditanya bagian yang paling saya suka, susah jawabnya. Setiap kalimat yang dibuat penulis rasanya bermakna semua. Contohnya bagian ketika Anya ingin sekali melupakan Ale, mulai dari penjelasan beberapa film sampai bagian otak yang berhubungan dengan memori, agak bertele-tele dan mungkin cukup membosankan. Namun begitu kita sampai di bagian akhir tentang informasi tersebut, kita akan tahu kenapa. Sangat suka gaya bercerita seperti ini, sangat informatif dan genius kalau saya bilang. Nggak banyak penulis yang bisa membuat narasi menjadi nikmat untuk terus diikuti, dan Ika punya cara tersendiri agar pembaca tidak bosan.Sebenarnya ada adegan yang saya ingat banget karena bikin deg-degan, bisa dibilang adegan favorit deh, yaitu sewaktu Harris dan Raisa, adik Ale ingin memberikan kejutan kepada kakaknya tercinta pas ulang tahun. Skenarionya, Anya berpura-pura pergi dari rumah, kemudian Harris akan menggiring Ale ke tempat semua keluarganya berkumpul, termasuk Anya juga. Bagian ini bener-bener deh, kita akan sangat merasakan perasaan Ale, cemas, khawatir dan takut, takut kalau semua itu bukan hanya sebuah skenario, tetapi kenyataan. Dan tentu saja adegan sepulang dari pesta ulang tahun Ale tidak boleh ketinggalan XD.Buku ini tidak hanya bercerita tentang Anya dan Ale saja, namun juga keluarga dan teman-temannya. Berbeda dengan sebelumnya, Ika sering sekali menceritakan profesi tokoh utama beserta para sahabatnya. Masih sama hanya saja kali ini porsi mereka pas, tidak kebanyakan dan sebagai pelengkap saja, benar-benar sebagai pendukung cerita. Yang sangat saya suka dari buku ini adalah cerita fokus pada Anya dan Ale, perasaan dan permasalahan dalam pernikahan mereka, hanya tentang mereka berdua. Oleh karena itulah buku ini menjadi paling favorit dari Ika Natassa, saya bisa merasakan apa yang dirasakan para tokoh utamanya, tema cerita yang sangat saya suka, pesannya juga dapat banget. Bahwa tidak ada yang mulus di dunia ini, ada saatnya kita terpuruk dan mencoba untuk berdiri tegak lagi. Bahwa semua orang punya salah dan berkesempatan memperbaikinya.Ada juga hubungan Ale dan ayahnya, cukup banyak berseliweran namun menjadi bagian yang cukup penting, terlebih dalam menyelesaikan masalah pernikahan, bisa jadi pelajaran berharga buat kita juga baik yang belum maupun sudah menikah. Dan bagi yang ingin membaca kelanjutan cerita Harris dan Keara di Antologi Rasa, buku ini tidak bisa dilewatkan. Saya sangat berharap penulis juga membuat cerita lain tentang keluarga Risjad, gantian para ceweknya dong, kak, pengen ada cerita lengkap tentang keluarga Risjad yang tersisa, trus kisah Ale dan Anya bisa diselipin juga kayak Harris dan Keara XD."Istri itu seperti biji kopi sekelas Panama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, Le. Kalau kita sebagai suami -yang membuat kopi- memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar. Aroma khasnya, rasa aslinya yang seharusnya tidak keluar, Le. Rasanya nggak pas. Butuh waktu lebih dari dua tahun dulu baru Ayah merasa sudah memperlakukan Ibu kamu sebagaimana seharusnya dia diperlakukan. Dari mana Ayah tahu sudah bisa? Dari perlakuan Ibu ke Ayah. Memang butuh belajar lama, butuh banyak salah dulu juga, tidak apa-apa. Yang penting kita tekun, sabar, penuh kesungguhan, seperti kita membuat kopi, Le. Bedanya dengan kopi, kalau kita sudah bingung dan putus asa, bisa cari caranya di Internet. Tinggal google. Istri tidak bisa begitu, harus kita coba dan cari caranya sendiri." "Nya, orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.""Kalau memang benar-benar sayang dan cinta sama perempuan, jangan bilang rela mati buat dia. Justru harus kuat hidup untuk dia. Rela mati sih gampang, dan bego." "Dengan kamu, aku sudah bakar jembatan, Nya. I've burned my bridges. There's no turning back. There's only going forward, with you." Karena beginilah dari dulu gue mencintai Anya. Tanpa rencana, tanpa jeda, tanpa terbata-bata. Buku ini bercerita tentang kehilangan, tentang kesempatan kedua. Buku ini sangat recommended bagi kamu yang ingin mencari cerita tentang domestic drama, bagi kamu yang ngaku sebagai penggemar Ika Natassa :D.review lengkap http://www.kubikelromance.com/2015/07...

  • Khikmatul Maula
    2018-11-10 12:54

    overrated.Itu kesan sy setelah dengan susah payah membaca buku ini sampe akhir (walau dari setengah buku-akhir banyak part yg sy skip)Well, buku ini terlalu matre, dengan banyak quote dan referensi yg out of context alias ga nyambung sama ceritanya. Mungkin buat gambarin kalo karakternya adalah orang yg 'berwawasan' dengan gaya hidup modern, jetset dan sisi religius yg agak dipaksakan.Sampai sy bingung, ini katalog ato novel sih? penting banget ya ngasi tau pembaca tentang harga jam tangan yg sampai 4000 USD, ngajak makan ke restolan berbintang 3 michelin di new york, beli cincin berlian dg batu yg sangat besar di franc & co(?)Menurut sy, karakterisasi dg penuh label gaya hidup modern bukan hal yg cerdas. (Maaf ya mbak ika)Karakter Ale yg terlalu sempurna (kuliah di texas, jadi penambang minyak, dapet beasiswa american football,mobilnya harrier,tinggi dan ganteng) yg kesalahan dia hanya satu yaitu keceplosan ngomong sm anya.Sedangkan anya yg digambarkan sebagai karakter yg sangat cantik rupawan, cerdas, cool, independent, modern,mary sue banget lah, tp kontrakdiktif dg caranya menghadapi masalah. Anya sangat egois dan ga dewasa, ga ada cool-coolnya sama sekali.Oke lah, ale emang salah, tapi ga perlu overdramatic kyk gitu kalee. Toh dia jg udah ngelakuin apapun demi dia.Sekarang plusnya, mbak ika sebenernya pinter nulis, tp please cobalah menulis dg lebih bersahaja, dengan karakter dan gaya hidup yg relatable, sederhana dan lebih fokus ke cerita bukan dari referensi film/buku/dll.Mungkin ini terakhir kali sy baca novel metropop. Ce n'est pas ma genre, alias not my cup of tea.

  • Chuddchutney Buana
    2018-10-24 11:49

    Finally finished my first Ika Natassa (which also happen to be my comeback to Indonesia literary after such long years. Last time? 5 Cm)!I don't know what is it that is so wrong about me reading an Ika Natassa's book, but lot of my friends stared at me in such confusion (reaction varied from 'you read Ika Natassa? :|' to 'I got a headache seeing you reading her work'). Probably because I projected myself as someone who is more likely into literary heavyweight such as Calvino, or Dostoevsky?(surprise, I can't even finish The Brothers Karamazov). Who knows. But then again, I am a man who put Armageddon and 8 1/2 side by side on my movies collection.Even more surprising is the fact that (should her works are all like this, and with lot of reviews that said this book is quite similar with her previous work, then I assume they are ) she's good. True, her writing is less 'literary' and more 'blog', but the important thing is that her writing are enjoyable, and it flows easily. Just by reading her words, I can know that she has a lot of 'street smart' (read: references) that makes her become a capable (though by that "less literary and more blog" hinder her for becoming a nobel worthy one) storyteller.If there's one thing that I mostly dislikewho about the book is the deus ex machina that was being used. It's like she's giving us an intriguing math problem that piqued our interests on how she's gonna solve it, only to screams "fuck it, here's a calculator" in the end. But the rest was good. I finished it in less than a week and might pick her other book after this.

  • Gloria Tetelepta
    2018-11-14 09:41

    Saya bisa tiba-tiba rewel ketika mereview buku. Saya masih belum menemukan apa rumusannya sampai saya jadi seperti itu. Satu hal yang pasti saya akan rewel ketika mereview buku ini, jadi bagi yang tidak tahan, tidak perlu baca review saya. Penting untuk diingat, saya belum membaca banyak buku, jadi pendapat saya bisa saja salah.Here it goes.Berikut ini beberapa detail dari novel ini yang ingin saya kemukakan:*) Saat membaca novel, saya sesungguhnya kurang menyukai dua bahasa yang digunakan dalam satu kalimat. Hal ini tidak masalah apabila yg dimaksud adalah istilah yang memang pas digunakan dalam bahasa lain. Akan tetapi, jika penuturannya harus bercampur-campur, jujur saja saya kurang suka. Namun saya paham karena ini bagian dari karakter novel.*) Situasi bitterness di awal-awal membuat saya agak bingung, karena cara Tanya dan Ale melampiaskannya dalam bentuk verbal terdengar sama, dan lagi, saya paham karena ini bagian dari karakter.*) Kalau yang saya baca di novel benar, ada satu typo yaitu seharusnya ditulis 'limpahkan' namun ditulis jadi 'limahkan'. Itu juga kalau saya membacanya benar. Saya mengemukakan hal ini, karena Ika Natassa termasuk penulis yang seingat saya tidak pernah typo dalam menulis novel. Itu salah satu hal yang saya suka darinya.*) Saat membaca novel ini, terkadang saya merasa karakternya sedang mengajar, kadang sedang mempromosikan. Saya tidak bilang ini salah. Saya hanya merasa kurang nyaman jika dua hal ini terlalu terang-terangan dan berlebihan.*) Saya menemukan beberapa missing puzzle, seperti: Adik Ale yang satu itu bukannya seharusnya tinggal di rumah orang tuanya, namun kenapa tidak terasa interaksinya? Mungkin memang tidak ada interaksi di sana ketika Ale berkunjung. Hal lain adalah ketika saya menemukan Tanya memilih untuk 'mandi air hangat atau air dingin' sebanyak dua kali. Mungkin memang Tanya sering diperhadapkan pada pilihan tersebut. Hal lain lagi adalah saya merasa POV yang sedikit off the track ketika Harris menjelaskan grand gesturenya dari POV Ale.*) Saya merasa Ale seperti seorang karakter lain yang ditulis di novel Ika Natassa yang lain. Saya tidak bilang ini salah. She's good when it comes to this character. I was just wondering, will she explore another character?Tadi adalah bagian rewel saya. Sekarang adalah secara keseluruhannya:*) Novel ini menggunakan alur bercampur, namun tidak membuat saya pusing ketika membacanya. It's smooth like in the movies.*) I must admit that Ika Natassa did a wonderful research and she didn't hold back. You can tell by reading her characters.*) I simply enjoy bromance between The Risjad Brothers. I find it refreshing. Ika Natassa did good on this part.*) It's predictable for me. I guessed it right both times, but still it's fun to read.*) Ika Natassa is one of those good Indonesian writers who can toy with your emotion , pull it on and off like it's just a piece of string. She knows how to make you sad and laugh. You feel it too. Admit it, guys.*) This novel isn't that ordinary romance novel. I learn many things here. About life too. I like how Ika Natassa using many ordinary things around us and take us to look into a deeper meaning in it. Yes, I'm talking about the coffee. Could be because I'm a caffeine addict, but you get my point. *) My final and last thoughts, yes this novel got some 'minor accidents' (to me at least), but it doesn't cloud the good parts. So when I close the book, I can say that when I look at the big picture, this is a good book I would recommend to my friends. Except, they already read her book too. I mean, people read her books these days. We all know that.So that's my review. Sorry for the long babbling somewhat necessary review. Now go put some ice to your eyes.

  • ABO
    2018-11-03 06:40

    Jika beberapa bulan ke belakang dunia perbukuan Indonesia “dijajah” oleh novel terbaru Ilana Tan, In a Blue Moon, belakangan ini ada satu judul novel yang best seller di toko buku-toko buku di Indonesia termasuk yang online. Novel ini berjudul Critical Eleven. Novel yang berasal dari sebuah cerpen berjudul sama yang terdapat di kumpulan cerpen metropop, Autumn Once More.Tidak berlebihan kalau buku ini diklaim terjual 1.111 copy dalam 11 menit lewat pre-order bulan juli lalu. Sampai sekarang pun masih banyak yang nyari buku ini. Versi yang saya pegang ini saja sudah cetakan keempat, hanya dalam beberapa bulan saja. Luar biasa!Sebelum membahas lebih jauh bukunya, saya patut memuji orang-orang di balik meledaknya Critical Eleven, terutama penulisnya sendiri. Menurut saya, di balik larisnya sebuah buku, selain faktor bukunya yang bagus, strategi pemasaran dan promosinya juga sangat berperan. Salut deh buat penulis dan penerbitnya yang berhasil memanfaatkan jejaring sosial untuk mempromosikan buku ini sehingga menjadi hits.Lalu, apa istimewanya Critical Eleven yang membuatnya begitu spesial? Buat saya sendiri ada tiga hal yang membuat saya jatuh cinta pada buku ini.Pertama, ide besar yang diangkat. Nggak banyak novel bertema pernikahan yang bikin saya betah bacanya, tapi ide besar dari buku ini (yang tidak akan saya kasih tahu apa :p) berhasil bikin saya langsung pengin tahu lebih banyak dengan apa yang terjadi pada Anya dan Ale. Terima kasih kepada Kak Ika Natassa, yang cuma nge-tweet review pembaca yang nggak spoiler di aku twitter-nya. Seriously, kalo kamu punya rencana untuk baca buku ini, hindari baca review orang (yang spoiler) deh. Kayaknya ada yang kurang gitu kalo kamu udah tahu duluan tentang apa Critical Eleven sebenarnya.Kedua, saya jatuh cinta dengan cara Kak Ika menceritakan kisahnya. Dengan nggak fokus ke satu alur, menyebar informasi-informasi di sepanjang chapters dalam buku ini. Kak Ika Natassa membiarkan pembacanya sendiri merangkai kisah hidup Anya-Ale lewat kepingan-kepingan puzzle yang ditebar. Saya tahu kalau teknik penulisan yang digunakan Kak Ika dalam Critical Eleven ini tidak mudah. Terutama dalam hal memilih kepingan puzzle mana yang cocok dan nyambung untuk ditempatkan di salah satu chapter. Eh iya, di poin ini juga termasuk bagaimana Kak Ika membuat pembaca bisa relate ke dua karakter utamanya, bahkan walaupun mereka sendiri mungkin belum mengalami apa yang dialami oleh mereka. Pembaca dibuat seolah-olah udah kayak kenal secara pribadi dengan Anya dan Ale.Terakhir, endingnya. Saya suka dengan pemilihan endingnya. Yang lebih penting adalah nggak ada kesan terburu-buru dalam menyelesaikan konfliknya. Semuanya ditulis dengan bertahap, mengalir, smooth.Seperti yang dibilang orang-orang, Critical Eleven adalah karya terbaik dari Kak Ika Natassa. Saya setuju, walau belum baca semua karyanya. Lewat Critical Eleven saya sudah memutuskan untuk meng-upgrade posisi saya dari yang cuma pengagum, sekarang resmi menjadi penggemar Kak Ika. http://ariansyahabo.blogspot.co.id/20...

  • Tiffany
    2018-10-30 06:44

    I'm debating whether I should give 2 stars or 2.5 stars.The characters are pretty exciting but the story is not. I can't even bring myself to read page by page.I feel bad. I'm sorry.

  • Reza Sanusi
    2018-10-27 04:36

    Hmmm...2 stars and half....Jadi begini, semenjak saya jatuh cinta sama karakter Beno. Saya memang memburu semua buku Ika Natassa . Tapi seperti memakan makanan yang sama berhari-hari, itulah kemudian yang saya rasakan. Ika Natassa terjebak pada pakem penokohan karakter yang sama. Saya sempat merasa dejavu, dan jujur itu yang membuat saya agak males-males baca tapi butuh buat menyelesaikan novel ini. Hal itu juga yang akhirnya membuat saya mengurangi sekian bintang untuk novel ini. Tokoh yang dibuat Ika, almost 100% sama dari novel-novel sebelumnya. Ayolah mba ika, masa sih gak bisa bikin karakter lain hidup, kenapa selalu cowok-cowok yang pendiam tapi romantis [biarpun ini tipe saya banget #yeecurhat] jatuh cinta setengah mati sama cewek-cewek cool-independent-modern kind of girl. Tipe-tipe the middle of twenty something yang punya karir bagus di Jakarta hingga mampu bergaya hidup jetset, selalu yang menganut paham modern life tapi juga religius, yang kadang menurut saya sedikit dipaksakan.Saya suka gaya penulisan mba Ika, cuma mungkin dicoba untuk memberi warna baru. Konfliknya sih saya suka, sederhana tapi dituliskan dengan cara sedikit demi sedikit yang membuat saya kepo sampai akhir. Endingnya juga cukup lumayan. Hanya soal penempatan karakter aja, mungkin bisa dicoba dengan bukan dari kalangan jetset, yang beli sepatu 500ribu saja masih mikir, yang lebih fresh... Just suggest aja sih mba... semoga bisa jadi masukan.

  • Lelita P.
    2018-10-20 05:52

    Ada penulis-penulis yang dilahirkan dengan magic untuk membuai pembaca dengan kalimat-kalimat sederhana dalam narasinya, tanpa perlu diksi berbunga-bunga yang bisa bikin sakit kepala. Narasi lho ya, bukan dialog--karena ada juga penulis yang lebih hidup dengan dialog. Penulis tipe pendongeng narasi ini biasanya legendaris. Sebut saja JK Rowling, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa. Setiap membaca karya mereka, kita bisa dengan mudah masuk ke ceritanya tanpa berpusing-pusing ria mencerna.Ika Natassa juga demikian. Dia juga tipikal penulis yang sangat mudah membuat pembacanya terhanyut dalam narasi, bukan dialog. Dengan Antologi Rasa, saya merasakannya. Juga Poll Story-nya di Twitter, The Architecture of Love. Dan kini, akhirnya, setelah lama menanti, Critical Eleven.Saya membaca ini tanpa ekspektasi. Dulu sudah pernah baca cerpennya di kumcer metropop Autumn Once More, dan itu saja yang saya tahu. Teman-teman Goodreads saya sudah banyak sekali yang membaca dan me-review novel ini, tapi saya hanya baca sedikit dari review-review tersebut karena tidak ingin merusak keasyikannya waktu membaca sendiri nanti.Critical Eleven adalah tipe novel yang dibaca tanpa bertanya, tanpa terlalu dikritisi, hanya sekadar dinikmati karena terlanjur hanyut dalam alirannya. Saya nggak mau komentar tentang pembagian POV atau hal-hal yang sudah banyak dibahas dalam review-review lain... jadi saya bahas apa yang pengin saya bahas aja. Saya kagum dengan cara Mbak Ika menulis novel ini secara nonlinear; bolak-balik antara masa kini dan kenangan, tapi rapi dan tetap membentuk satu jalinan cerita utuh. Saya tahu sulitnya meramu cerita yang seperti penelitian kualitatif studi kasus--mengupas segala aspek yang bisa dikupas dari tokoh-tokohnya, bahkan tokoh yang pinggiran sekalipun. Buat saya itu menarik, meski mungkin saja ada orang yang bilang "Ngapain sih nyeritain gimana Bapak dan Ibu Risjad bertemu? Kan nggak relevan sama cerita!" Tapi itulah yang namanya cerita elaborasi. Karakternya seolah punya kehidupan sungguhan, dan bukan cuma karakter utamanya saja melainkan juga karakter-karakter lain di sekitarnya. Jadi kita seperti membaca tokoh nyata, bukan fiktif. Saya selalu suka itu--seperti ketika membaca Wonder atau If I Stay atau Carry On, membuat kita merasa mengenal seluk-beluk keluarga mereka secara utuh.Saya juga suka bagaimana Mbak Ika menyelipkan pesan-pesan moral sederhana di sana-sini. Mungkin ada yang terkesan preachy bagi sebagian orang, tapi bagi saya usaha untuk menyebarkan kebaikan itu penting. Apalagi novel ini dibaca banyak orang dan bersifat terapan, jadi langsung bisa menginspirasi untuk dilakukan. Salut saya karena Mbak Ika bisa menyuguhkan pesan-pesan kebaikan itu, baik yang sifatnya hubungan vertikal manusia dengan Tuhan maupun hubungan horizontal manusia dengan manusia, di dalam novel ini. Anyway, keklisean mungkin tak terhindarkan dengan (view spoiler)[adegan Ale kecelakaan (hide spoiler)]. Memang kejadiannya nggak fatal, tapi sebetulnya saya berharap tidak perlu ada adegan semacam itu dalam perjalanan rekonsiliasi Ale-Anya.Dan sejak masuk ke permasalahan utama kenapa hubungan mereka jadi begitu, saya sudah bisa menebak bagaimana ending cerita ini nanti. Ternyata saya benar! Tapi saya tidak kecewa. Saya nggak bisa membayangkan ending lain sih.CE ini penuh emosi... pembaca dibawa ikut naik-turun gegara hubungan Ale-Anya. Kita selalu tahu kalau ada novel yang ditulis sepenuh hati, dan CE adalah salah satu novel itu. Perasaan Mbak Ika sebagai penulisnya tersampaikan sekali; terasa banget dia benar-benar menulis ini dengan segenap jiwa, berbicara pada pembaca melalui perasaan Ale dan Anya di setiap POV mereka masing-masing. CE adalah novel yang akan membuat kita tersenyum usai menamatkannya, dengan emosi yang membuncah di dada dan rasa puas karena telah membaca buku yang bagus.

  • Annisa Purnomo
    2018-11-17 06:43

    Pertama, masih gak percaya dapet PO bukunya (karena sebelumnya saya gak dapet PO Twivortiare 2 yang maha dahsyat itu). PO Critical Eleven ini saya sangat sangat riweuh sampai merepotkan banyak teman di kampus hehehe.Kedua, masih gak percaya kalo udah selesai baca bukunya.Kebiasaan saya, kalo bukunya itu seru, saya tunda-tunda bacanya. Dikit-dikit berhenti, liat udah seberapa tebel halaman yang saya baca, gimana perbandingannya dengan halaman sisa yang belum saya baca. Saking gak relanya itu buku habis. Apalagi kalau udah ditengah-tengah atau tinggal sedikit, hadeuh. Ditinggal mandi dulu, ditinggal makan, ditinggal macem-macem deh biar ceritanya lama berakhir. Padahal gak akan ngubah itu jalan cerita. Sinting emang.Lanjut review, kebanyakan sesi curhat soalnya.Ceritanya! Yang pertama saya kaget itu, kirain ini cerita kayak cerita Antologi Rasa gitu. Cerita cinta-cintaannya cowok sama cewek yang belum nikah. Ternyata.... Eh ternyata. Isinya jauh dari yang saya pikirin. Tapi saya suka.Karena udah lama gak review buku, jadi bingung mau nge review bagusnya dari mananya.Saya suka aja, sama kalimat-kalimat Ale ke Anya (sama Anya ke Ale suka gemesh). Sama jalan pikiran mereka, berpindah-pindah dari pov Anya ke Ale, ke Anya lagi terus ke Ale lagi. Bikin saya ngerti dan gak nge judge satu tokoh lantas ngebenci yang lain.Awalnya ya saya gemes sama Anya, kok ya Ale cowok maha sempurna (cowok idaman lah ya pokok e) di ombang-ambing gitu sama Anya udah kayak di kapal kilang minyaknya si Ale aja. Tapi pas di pov Anya, gantian saya yang gemes sama Ale. Kok bisa-bisanya Ale ngomong gitu, kalo saya jadi Anya juga pasti muarah buanget. Gitu deh kayak di blender perasaan saya pas baca. Kadang jadi pembela Anya, kadang Ale.Perpindahan waktu dari masa sekarang ke masa lalu juga enak. Gak bingungin Alhamdulillah.Terus yang saya suka lagi, novelnya ngasih saya informasi-informasi kecil. Kayak dibuku ini, saya dikasih informasi tentang kopi-kopian gitu, rekomendasi film (karena banyak banget nyebutin "kayak di film..."), rekomendasi tempat makan, atau kayak menurut orang ini... Bla bla bla. Jadi bukunya isinya ya gak melulu dialog dua toko utama ini. Gak terlalu bosen juga.Tapi gara-gara saya bukan anak yang suka nonton film, jadi kalo ada kalimat "kayak di film..." Rada-rada gak bisa ngebayangin. Soalnya gak pernah nonton hehehehehe.Terus di halaman-halaman akhir, yang bagian Anya cerita mereka pindah ke New York, udah gak fokus lagi ke flashback nya. Gak tau karena kebanyakan flashback, gak tau karena lagi serius mau tau akhirnya gimana hehehehe.Hehehe mulu deh perasaan. Segitu dulu deh review nya. Review buku pertama setelah gak nge-review buku sekiaaaaaan lama.

  • Anastasia Cynthia
    2018-11-12 06:41

    “Jakarta itu labyrith of discontent. Dan semua orang, termasuk aku dan kamu, setiap hari berusaha untuk keluar dari labirin itu. The funny thing is, ketika kita hampir berhasil menemukan pintu keluar labirin ini tapi malah ketemu hambatan lagi, pulling us back into the labyrinth, Kita justru senang karena nggak perlu tiba di titik nyaman. It’s the hustle and bustle of this city that we live for. Comfort zone is boring, right?” –Critical Eleven, hlm. 11Masih teringat di benak Anya ketika pertama kali bertemu Ale di sebuah penerbangan menuju Sydney. Mereka duduk bersebelahan. Dan tanpa sadar, Anya tertidur, menumpang bahu pria asing di sebelahnya selama tiga jam. Saat bertemu dengan Ale, Anya tahu, he’s the one. Satu-satunya pria yang membuatnya nyaman mengobrol panjang lebar. Pun dengan Ale, yang terpukau dengan kecantikan dan kepandaian Anya.Tidak perlu lama-lama pacaran, Ale melamar Anya di jok belakang mobil. Walau Anya tahu, peretemuannya dengan Ale memang tidak biasa. Hanya tipe meet-cute yang kerap terjadi di rom com. Namun, hubungan mereka sudah kepalang sempurna.Setelah lima tahun bersama, Anya dan Ale nyatanya tidak baik-baik saja. Anya yang tadinya gemar tertawa menjadi muram dan gemar menyendiri. Di balik pilihan-pilihan yang pernah ia ambil, benaknya kembali mempertanyakan masa lalu; menduduki jok penumpang di pesawat Jakarta-Sydney.Lantas, apakah pilihan mereka benar-benar tepat?Better late than never. Setelah melewatkan masa hype peluncuran novel “Critical Eleven” beberapa bulan lalu. Dan mengulur untuk tidak membacanya terlebih dahulu. Akhirnya buku setebal 344 halaman tandas dalam hitungan jam.“Critical Eleven” bisa dibilang buku yang pintar. Bukan sekadar pintar. Tapi ikut mengajak pembacanya untuk menjadi pintar, jeli, dan cermat. Walau sepintas tidak ada emblem logo Metropop di belakangnya, tapi secara keseluruhan, dari gaya bahasa maupun tema cerita, “Critical Eleven” masih mengandung banyak unsur yang bisa dikategorikan sebagai cerita yang centil atau lebih dikenal sebagai chicklit. Ada unsur roman di dalamnya, tapi ada bumbu humor juga di tiap perdebatan dan monolognya, sehingga kalau disimak baik-baik, membaca “Critical Eleven” bisa disamakan dengan menonton sinema komedi romantis ber-setting ibukota. Namun, jika acapkali bacaan cewek dikaitan dengan suatu yang ringan dan bersifat menghibur. Dari segi adegan adegan-adegan romantisnya, “Critical Eleven” menawarkan sesuatu yang jauh lebih dewasa dan berbobot.Baca selengkapnya di: https://janebookienary.wordpress.com/...

  • Yovano N.
    2018-11-14 07:34

    Review Kandang Baca: http://www.kandangbaca.com/2015/10/cr...Pertama kali muncul sebagai cerita pendek dalam buku kumpulan cerpen metropop berjudul Autumn Once More, Critical Eleven yang ditulis Ika Natassa sudah membuat banyak pembaca jatuh hati sekaligus penasaran. Dalam cerpen tersebut, dikisahkan seorang wanita tengah berada dalam sebuah perjalanan dengan pesawat terbang, sedang mengenang awal pertemuannya dengan seorang lelaki yang kelak menjadi kekasihnya. Namun sungguh disayangkan, perkenalan manis tersebut hanya tinggal kenangan, karena keduanya kini telah menjadi orang asing satu sama lain. Cerpen hanya berakhir di situ saja. Pertanyaannya, apa yang menyebabkan mereka tak lagi saling cinta? Dalam novel inilah, Ika Natassa menjawab pertanyaan tersebut.“Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.” Ika Natassa kemudian mengaitkannya dengan pertemuan antarmanusia. Tiga menit pertama adalah saat paling menentukan, sebab saat itulah pertama kali kesan terhadap seseorang terbentuk. Sedangkan delapan menit sebelum berpisah, ada saat di mana kita memutuskan apakah pertemuan tersebut akan berlanjut ke arah yang lebih baik, atau sebaliknya, menjadi sebuah perpisahan yang dinanti-nanti.Tanya Baskoro (Anya) dan Aldebaran Risjad (Ale) bertemu dalam pesawat. Sebelas menit paling kritis dari pertemuan tersebut rupanya membawa kesan yang dalam bagi keduanya, terutama bagi Ale. Namun butuh waktu satu bulan sebelum Ale akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk menghubungi Anya kembali. Long story short, mereka jadian. Setelah setahun berpacaran, keduanya sepakat bahwa mereka adalah belahan jiwa satu sama lain. Mereka pun menikah, walau tak dapat selalu bersama sepanjang waktu. Pekerjaan Ale sebagai petroleum engineer memaksanya tinggal jauh dari Anya. Sementara Anya tetap menjalankan profesinya sebagai management consultant di Jakarta. Untungnya Ale miliki waktu 5/5, yakni lima minggu bekerja di rig (persisnya, di Teluk Meksiko), dan lima minggu libur—yang selalu dihabiskannya di Jakarta bersama Anya. Walau tak selalu bersama, hubungan pernikahan mereka tetap harmonis.Hingga kemudian tragedi itu terjadi—sebuah tragedi memilukan yang menjadi mimpi buruk pasangan suami istri manapun. Pada akhirnya, meski masih berstatus suami istri dan tinggal seatap, sebuah jarak telah tercipta di antara mereka, walau dalam lubuk hati masing-masing, keduanya sesungguhnya masih saling mencintai. Mungkinkah mereka dapat mempertahankan pernikahan? Atau justru harus mengakhirinya?Pertama kali mendengar kabar bahwa Critical Eleven akan dijadikan novel, saya sangat bergairah dan tak sabar untuk segera membacanya. Sayang, setelah berbulan-bulan menanti, saya tidak kebagian jatah PO. Saking banyaknya pembaca yang penasaran dan memesan melalui jalur PO di toko-toko buku online, buku ini langsung ludes sebanyak 1.111 eksemplar hanya dalam 11 menit. Bayangkan! Saya Cuma bisa pasrah dan bersabar menunggu cetakan berikutnya beredar di toko buku di kota tempat saya tinggal.Sebagai pembaca karya-karya Ika Natassa, saya harus mengkui bahwa Critical Eleven adalah novelnya yang memiliki konflik paling menyesakkan dada. Berulang kali saya dibuat nyaris meneteskan air mata (oke, hapus bagian “nyaris”-nya) saat menyaksikan para tokohnya dipaksa bergelut dengan rasa kehilangan. Dalam novel ini, Ika kembali ‘memerankan’ dirinya dalam multikarakter seperti yang pernah sukses dilakukannya dalam Antologi Rasa. Namun dalam Critical Eleven, karakter yang diperankannya cukup dua tokoh saja, yaitu Anya dan Ale. Ya, novel ini diceritakan melalui dua sudut pandang tokoh tersebut, dan Ika sekali lagi berhasil melakukannya dengan baik. Tokoh Anya dan Ale terasa benar-benar nyata. Pembaca, setidaknya saya, sungguh dapat merasakan emosi yang kuat dari dua tokoh ini. Anya benar-benar terlihat berusaha untuk tegar walau sebenarnya rapuh. Sementara Ale, terlihat jelas bahwa ia sangat mencintai Anya dan rela berkorban perasaan demi sekadar mendapatkan seulas senyum tipis dari istrinya itu.Untuk urusan teknik bercerita, kepiawaian penulis tak perlu diragukan lagi. Selain menggunakan dua sudut pandang, cerita dalam novel ini diperkuat melalui alur yang tak biasa, yakni alur maju dan mundur. Penggunaan alur campuran ini cukup sukses membuat emosi saya jungkir balik. Penulis memang tak langsung memaparkan penyebab renggangnya hubungan Anya dan Ale, melainkan terlebih dahulu membangun rasa penasaran pembaca melalui gambaran situasi pernikahan mereka di masa kini, diselingi berbagai kisah masa lalu yang manis dan mengundang senyum. Hingga kemudian masalah yang sebenarnya diungkap, saya benar-benar tak mampu lagi membendung air mata. Meski saya tak pernah mengalaminya sendiri (amit-amit), saya memiliki kerabat yang pernah mengalami tragedi yang sama persis dengan yang dialmi Anya dan Ale. Ya Tuhan. T.TSebuah pernikahan memang membutuhkan komitmen yang kuat dan rasa saling percaya di antara kedua belah pihak, termasuk rasa saling percaya saat tengah mengalami masa-masa sulit. Dalam kasus Anya dan Ale, keduanya memilih untuk menanggung rasa kehilangan mereka sendiri-sendiri, dan itu malah memperparah hubungan pernikahan mereka. Barangkali ini pesan moral yang coba disampaikan oleh penulis.Saya agak kesulitan bila ditanya bagian dari novel ini yang menjadi favorit, sebab banyak sekali adegan yang sangat berkesan. Misalnya monolog Ale dan Anya yang seolah mengajak pembaca untuk merenung. Ciri khas Ika Natassa terlihat jelas di sini. Awalnya beliau (melalui tokoh Anya dan Ale), membeberkan fakta-fakta menarik seputar banyak hal (budaya pop dan pengetahuan umum), sebelum membahas masalah yang sesungguhnya. Lumayan nambah-nambah pengetahuan dengan cara yang fun dan tak membosankan. Hehe.Adegan-adegan yang melibatkan interaksi Ale dan keluarganya lumayan menjadi bagian favorit saya. Saya menyukai cara penulis menggambarkan hubungan antara Ale dan ayahnya, yang meski awalnya kurang harmonis, namun pada akhirnya terlihat sekali bahwa ayah sangat menyayangi Ale, dan sebaliknya, Ale sangat menghormati ayah. Hubungan antara Ale dan Harris sebagai kakak-adik pun cukup ampuh menjadi pencerah dalam novel yang bernuansa sendu ini (iya, Harris di Antologi Rasa itu).Ada satu adegan dramatis yang membuat jantung saya berpacu, yaitu ketika Ale berulang tahun. Harris meminta Anya bekerjasama untuk mengerjai Ale (omong-omong, Harris dan keluarga besarnya tak tahu-menahu mengenai permasalahan yang dialami Ale dan Anya, sebab keduanya menutupinya dengan rapat). Sesuai skenario yang dirancang Harris, Anya meninggalkan pesan pada Ale bahwa ia akan pergi dari hidup Ale. Ale, yang sedang mati-matian berusaha memperbaiki hubungannya dengan Anya, tentu saja kalang kabut. Ditambah lagi, kemungkinan besar Anya akan menggunakan kesempatan ini untuk kabur betulan. Saat membaca bagian ini, saya seolah menjadi Ale. Saya benar-benar dibuat semaput dan bertanya-tanya: apakah Anya sungguh-sungguh pergi?Secara keseluruhan, saya sangat menikmati bergalau-ria bersama Critical Eleven. Tadinya saya sempat merasa kalau buku ini kurang ‘nendang’. Barangkali karena saya membandingkannya dengan karya-karya Ika Natassa sebelumnnya, yang bernuansa fun, witty, dan jauh dari kesan kelam. Tapi bila ditilik lebih lanjut, kurang nendang apa coba novel ini? Konfliknya begitu dalam (seperti yang saya harapkan cerita-cerita fiksi), sampai-sampai saya butuh asupan tisu untuk menjaga agar mata tetap kering.Oh ya, sekadar info, kehadiran Harris dalam cerita ini tak sekadar sebagai kameo biasa, namun sekaligus menjawab rasa penasaran pembaca atas nasib Harris-Keara pasca Antologi Rasa. Dan bagi penggemar Alexandra-Beno-Arga, keluarga kecil tersebut muncul juga di novel ini, bila kalian jeli. :)

  • Shuhada Ramli
    2018-10-25 11:37

    Similar to every love story Ika Natassa has her own style of exploring her fictional characters. I have to admit that I have fallen in love with Ale and what more imagining him as that handsome Reza Rahadian and; OMG his character is an every girl’s wish! Ika has done a great job in making all of the characters alive. She has narrated the story really well. Although the narration is a bit cliche, but she use a different approach to reach the my heart. She could have said it straight to reach the point, but she made me feel the pain, intense, emotional and at times I felt loved and beloved. The story has 2 points of views and it’s an easy read.

  • Pattrycia
    2018-11-08 10:30

    "Hidup ini jangan dibiasakan yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.Gw pertama kali kenal nama Ika Natassa waktu baca bukunya yang berjudul divortiare. Karena gw lumayan suka sama ceritanya, akhirnya gw beli juga A Very Yuppy Wedding sama Antologi Rasa. Dari yang awalnya suka, lama2 gw mulai lumayan eneg terbiasa dengan gaya nulisnya yang gado-gado, karakternya yang hampir sempurna, lengkap dengan gaya hidup mereka yang oh-so-to-die-for. Waktu tau karakter Alex di Divortiare ternyata punya akun twitter, gw iseng2 ikutan follow. Lama-lama gw berasa gila sendiri, masa iya, gw manusia hidup yang nyata nge-follow karakter yang ga nyata? Dari situ gw mulai menjauh dari buku-bukunya Ika (duh kayak kecanduan aja), sampe suatu hari temen2 sesama bookworm yang ngefans sama Ika bilang kalo buku ini mau diterbitin. Tmn gw heboh banget karena ga kebagian PO-nya. Akhirnya setelah dia nungguin buku ini resmi terbit sambil manyun, temen gw yang manyun baik hati ini buru-buru nyelesaiin & akhirnya minjemin gw. Singkatnya, buku ini berkisah tentang kehidupan pernikahan Ale-Anya setelah suatu kejadian yang cukup fenomenal & devastating akhirnya menciptakan jarak diantara mereka. Gimana Ale yang sangat mencintai istrinya memutuskan untuk mengikuti kemauan Anya yang meminta pisah ranjang. Gimana Ale yang walaupun dicuekin sama Anya tetap mencoba untuk memperbaiki hubungan mereka. Gimana Ale yang serasa di ujung tanduk karena sangat takut akan kehilangan orang yang sangat dicintainya. The love of his life, the apple of his eye, his other half, you name it. Annnnnddd.. just like any other love story, (view spoiler)[they live happily ever after. (hide spoiler)]Gw harus akui, banyak perubahan dalam tulisan Kak Ika dibanding 3 bukunya terdahulu yang gw pernah baca. Tulisannya lebih dewasa dan lebih berisi, namun sayangnya terkesan sangat menggurui. Jujur aja, gw rada males baca buku yang isinya makna kehidupan. Kalo emang gw mau baca, mungkin gw bakal baca bukunya Om Mario. Selain itu, di setiap bab, khususnya bagian Anya, kita bakal dibawa muter-muter, dengerin Anya berfilosofi, cerita ngalor ngidul sebelum akhirnya balik lagi ke poin bab tsb. Seringkali gw pengen teriak "Oh woman, just cut the crap already!" Mungkin karena itu juga, gw lebih seneng pas baca bagiannya Ale. Yang masih belum berubah dari tulisannya (atau mungkin emang itu trademark penulis) adalah kebiasaannya yang suka mencampur bahasa Inggris dan Indonesia. Gw ngerti sih emang klo uda kebanyakan mikir dalam bahasa Inggris, pasti susah buat nemuin kata-kata dalam bahasa Indonesia yang pas buat ngeganti kata itu. Tapi yang menurut gw rada ganggu itu kalo dalam satu kalimat tiba2 bisa berubah dari bahasa Inggris ke Indo. What do you want to makan buat sarapan hari ini? See? Aneh banget kan? Menurut gw, klo emang mau inggris ya satu kalimat inggris semua, jadi yang baca ga pusing. Setelah baca 4 bukunya, harusnya gw udah terbiasa sih sama "trademark"nya, tapi ya teteup sih gw ngerasa keganggu. Tapi tapi walaupun keganggu, gw tetap harus kasih applause karena menurut gw dapet banget feeling buat novel ini. Apalagi scene waktu Ale mau dikasih kejutan pas hari ultah. Dia kaget & panik banget waktu tau Anya pergi cuma ninggalin surat doang, lebih ketakutan lagi waktu dia ga berhasil nemuin Anya di restoran. Dan waktu akhirnya Anya nongolin batang hidungnya, rasanya pasti kayak orang yang akhirnya bisa kentut setelah nahan sejam, lega banget. Seneng juga sih bisa baca novel yang feelingnya berasa banget. Novel romance emg banyak, tapi yang bisa ngebangun suasana & dapetin feelingnya jarang banget. Yah, akhir kata buat pasangan A kuadrat, gw kasi 3.5 bintang dibuletin ke atas (soalnya lg generous ;P). Menurut gw sih buku ini merupakan yang terbaik sejauh ini. Layak banget buat dikoleksi!PS:Nyesel banget ga dpt pas ada diskon 17an di gramediana!

  • Alvina
    2018-11-15 10:40

    Well, buku Ika Natassa yang pertama saya baca adalah A Very Yuppy Wedding, dan setelah itu saya memutuskan bahwa karya dia tidak cocok dengan selera saya. Hei, no offense, saya menghormati karyanya dan para fans setianya, hanya saja saya tidak termasuk di dalamnya. Jadi ketika ika mengeluarkan buku buku barunya, sebut saja twivortiare, divortiare, saya tak tergoda sama sekali untuk membelinya.Lalu di awal tahun ini saya membaca kumpulan cerpen yang diterbitkan untuk memperingati ulang tahun Gramedia, ada karya Ika juga di buku itu dan saya rasa saya cukup menyukainya. Tidak terlalu gengges dengan bertaburan merk dagang seperti di AVYW. Sampai kemaren ketika Ika promo tentang novel barunya Critical Eleven, saya masih cuek bebek. Tapi cueknya saya ternyata ada habisnya juga, hahahah, karena saya tergoda oleh sampulnya yang berwarna biru (yeah, saya tipe pembaca yang judge the book by its cover) dan tagnya yang juga berwarna biru. Sayang, saya tidak berjodoh dengan urusan PO mem-PO. Sampai saya ditawari oleh seorang teman yang kebetulan membeli dua buku, hei, rupanya jodoh memang berlaku juga untuk buku. Jadi inilah critical eleven yang sudah ditunggu tunggu penggemarnya hampir berbulan bulan lamanya....Memory is a great servant, but really bad masterHanya dibutuhkan setahun berpacaran, sebelum Ale dan Anya memutuskan untuk lanjut ke jenjang pernikahan. Meski kelak hubungan mereka jarak jauh, karena Ale bekerja di pengeboran minyak lepas pantai, sedangkan Anya bekerja sebagai konsultan di Jakarta, tetapi keduanya yakin bahwa hubungan mereka benar benar serius saling mencintai. Liat yang sudah elo lakukan ke perempuan yang lo sebut istri kesayangan lo, Aldebaran Risjad. Laki-laki macam apa lo?Yah, pernikahan memang awal awalnya akan penuh kebahagiaan, meski tak ada yang tahu apakah kebahagiaan itu anugerah atau ujian Tuhan. Begitulah, sebuah tragedi menimpa rumah tangga yang baru mereka bangun. Semenjak itulah pernikahan mereka mandeg, stagnan larut dalam kesedihan. Meski keduanya masih saling mencintai, tetapi mengingat masa lalu yang bahagia malah membuat keduanya merasa makin terluka. Lalu bagaimana akhir cerita mereka? Apakah bahagia seperti roman picisan sederhana? Atau banjir air mata? (Eaaaaa)Well, jujur saja saya subyektif saat membaca buku ini, apalagi temanya sampai membuat saya mengurut dada saking pilunya. Mungkin karena saya punya teman yang bernasib seperti Anya dan Ale, sehingga secara tidak langsung saya jadi terlarut dalam ceritanya. Saya memang ngga punya karakter idola di buku ini, meski Anya dan Ale diberi penokohan yang cukup sempurna. Okelah keduanya egois, keras kepala, dan sama sama rapuh. Well, ya, khas metropop gitu deh. Jadi saya lebih suka menanggapi tema pernikahan yang diusung oleh Ika Natassa. Dari buku ini, saya menaruh sedikit harapan bahwa pada akhirnya para pembaca akan memiliki cara pandang baru terhadap pernikahan. Pernikahan bukanlah hanya ajang untuk suka suka, dan butuh kerjasama dua belah pihak untuk mengemudikan bahtera mereka. Komunikasi adalah salah satu kunci yang sangat penting, ditambah ke-legowo-an masing masing pihak untuk bisa saling memaafkan. Yah, novel yang ringan tetapi sarat makna, sih buat saya. Dan gaya penulisannya jauh lebih berkembang, daripada AVYW yang sempat membuat saya jera membaca metropop. hahahah. Btw thank you, Ulin, karena ternyata worth it banget beli buku ini, apalagi dapat versi POnya XD

  • Vanda Kemala
    2018-10-18 09:45

    Nyaris kehabisan napas demi selesai baca novel ini. Udah paling pas, bisa baca hasil pinjam ke saudara.Well, too much drama can kill you.

  • Haniva Az Zahra
    2018-11-10 05:40

    Baiklah, ada juga waktunya untuk menulis review. Saya membaca hampir semua buku dari Ika Natassa. Buku pertamanya yang saya baca adalah Twivortiare kemudian saya membaca buku sebelumnya, yaitu Divortiare. Akhirnya Antologi Rasa dan AVYW. Saya membaca Twivortiare 2 dan hingga saat ini belum pernah membaca Underground dan Autumn Once More. Tapi bolehlah ya saya bilang bahwa saya menunggu karya-karya dari kak Ika. Critical Eleven adalah buku terbaik kak Ika. Saya suka ide ceritanya dan memang kak Ika benar bahwa resume di belakang buku bukanlah menggambarkan isi cerita yang sebenarnya. Saya hampir selalu membaca buku kak Ika secara langsung, tanpa jeda, maksudnya tanpa menutupnya untuk istirahat. Untuk buku ini, saya menghabiskannya dalam waktu 2 jam saja. Mulai dari jam 11 malam hingga 1 pagi. Saya sebenarnya selalu merasa sayang menutup buku kak Ika sebelum selesai, selain juga bingung, mau berhenti di halaman berapa? Saya penasaran dengan cerita di halaman selanjutnya. Buku ini sebenarnya tidak mengecewakan, saya menikmati ketika membacanya, menangis pula di tengah-tengah, jatuh cinta juga pada Ale, dan merasa sayang ketika sampai di halaman terakhir, yah habis. Namun kemudian, saya menyadari sesuatu, saya merasakan kak Ika yang dari seluruh buku yang saya baca selalu menuliskan gambaran tokoh yang hampir mirip. Laki-laki ganteng yang sukses dan sibuk juga perempuan mandiri dengan karir yang juga baik. Itu sedikit membuat saya bosan. Selain itu, saya merasa Critical Eleven di bagian akhirnya terasa sedikit terburu-buru untuk diselesaikan. Entah rencana kak Ika ada buku kedua atau tidak, tapi semoga tidak seperti Twivortiare 2 yang sedikit terlihat agak dipaksakan untuk lahir karena antusiasme pembaca. Saya sepertinya berharap Critical Eleven tidak ada buku lanjutannya, agar terasa pas dan biarkan pembaca yang mereka-reka kisah hidup Ale-Anya selanjutnya.Strategi yang kak Ika gunakan untuk melahirkan Critical Eleven layak diapresiasi. Ia memanfaatkan secara optimal media sosial untuk meningkatkan animo. Saya jatuh cinta dengan cara kak Ika serta kepribadiannya sebagai penulis yang dekat dengan pembaca. Kak Ika adalah salah satu contoh penulis yang benar-benar melakukan yang terbaik untuk karya-karyanya. Review ini tentulah tidak akan muncul di twitter kak Ika karena tidak baik untuk media promosi. Tapi saya berharap kak Ika dan karya barunya akan keluar dari konflik antara laki-laki ganteng nan kaya dengan perempuan cantik yang memiliki karir yang baik. Selamat kak Ika, saya tunggu karya berikutnya, pasti ;)

  • Nia F. S. Kartadilaga
    2018-10-19 07:30

    http://www.niafajriyani.com/2017/01/C...Ini adalah satu-satunya karya Ika Natassa yang isinya menurut saya tolerable. Saya tetap tidak menyukai karakter kakak-beradik Risjad, tho -- termasuk si Aldebaran a.k.a Ale itu. Satu-satunya lelaki Risjad yang saya sukai hanya Risjad Sr. GOD Bless you, sir, karena berkat Anda si Ale jadi lebih MIKIR.(view spoiler)[Etdah, boy, lama amat situ dapetin insight tentang apa yang dihadapi bini sendiri. Kalau bukan berkat obrolan dengan Risjad Sr, saya yakin ni lakik peak kaga juga sadar. Ngakunya cinta, cih! Malah sibuk dengan drama diri sendiri mulu. Dih! (hide spoiler)]End of ngomel...Ale ini tidak sadar kalau Anya sendirian dalam bergelut dengan kesedihannya. Anya memang memiliki teman yang siap backup, tapi sesungguhnya dia sendirian dan tidak memiliki teman yang benar-benar bisa diajak untuk berbagi kisah yang membuat jiwanya babak belur pasca momen kehilangan. Suami yang diharapkan bisa menjadi teman justru menambah luka di hatinya yang masih menganga lebar; malah makin jadi infeksi dan bernanah lukanya Anya ini karena perbuatan Ale yang tidak empatik. Bukan cuma Ale, lho, yang berhak sedih. Anya juga. Apalagi selama proses sejak awal Anya anu, Ale ini practically jarang ada di sisi Anya karena Ale jarang bisa ada di rumah. So, girls, wake up. Kisah Anya-Ale ini salah satu kisah kehidupan pernikahan yang cenderung realistis, tidak menjual mimpi apalah ntah yang sering membuat ciwik-ciwik lupa kalau menikah itu bukan sekadar romansa awuwuan. Duh, ya... Hahaha.Saya katakan CE tolerable di sini karena isu yang diangkat itu isu kehilangan yang melibatkan (view spoiler)[kematian (hide spoiler)]. Jadi, galau karena ini, tuh, menurut saya SANGAT WAJAR; siapa yang tidak akan sebegitunya galau dan sulit sekali menerima kenyataan, serta sulit sekali untuk ikhlas dan move on, kalau harus menghadapi apa yang dihadapi oleh Anya dan Ale? Percayalah, saya menemukan langsung kasus serupa dialami oleh salah satu Tante terdekat saya dan dua orang teman kuliah saya. Ada di antara mereka yang butuh waktu lebih dari 2 tahun untuk benar-benar bisa menerima takdir -- dan mereka ini sangat luar biasa hati-hati selama menjalani proses karena masih ada jejak "trauma", ketika diberikan kesempatan untuk memperoleh "pengganti".

  • Rido Arbain
    2018-11-15 09:45

    "...yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya." Benar apa yang ditulis di bagian blurb novel ini. Ika Natassa benar. Selama baca, aku nggak bisa lama-lama bersimpati pada Anya dan drama berkepanjangannya. Juga pada Ale, setelah tahu hal krusial apa yang dikatakannya pada sang istri. Kadang capek dengan drama suami-istri ini. Tapi..., scene di mana Ale memeluk erat Anya di sebuah kafe itu jelas bagian yang paling bikin terenyuh. Ya, aku sempat dibuat suka dengan karakternya. Fuh!Alur. Walaupun dibuat acak, kadang maju, kadang ujug-ujug flashback, tapi nggak bikin bingung. Gaya bahasa khas metropop ala Ika juga asyik, seru, dan sarat hal-hal baru. Nggak bisa bilang nggak suka, ya. Konfliknya bagus, tapi rasanya terlalu (diper)lambat. Aku pernah berapa kali melihat 'bencana' tetangga sebelah rumah yang sama dengan yang dialami Ale-Anya, but their life still go on. Tapi, ya, dalam fiksi apa saja bisa terjadi. Dan, ini agak penting nggak penting. Sampai menutup halaman terakhir buku ini, aku masih terngiang-ngiang dengan segala sesuatu di Antologi Rasa. Bukan karena tokoh si fuckin' adorable Harris muncul lagi di sini, tapi aku merasa gaya bercerita PoV 1 penulis nggak bisa benar-benar out dari karakter rekaan di novel AR. Aku merasa di novel ini, Ale is Rully, Anya is Keara, and uhm... Harris still Harris. Bukan berniat komparatif, tapi begitulah perasaan pembaca malang satu ini. Mungkin Ika perlu membuat karakter baru yang nggak hedonis, borjuis, dan jauh dari kehidupan kaum urban dulu biar muncul tokoh baru yang bisa menggeser pesona Harris. (Bahkan di Critical Eleven, Harris tetap mencuri perhatian). Come here, fangirl!

  • Twindya
    2018-11-03 09:43

    I really enjoyed the-four-hours i spent last night reading this book. I only stopped one time, when my baby was awake and i need to breastfeed her. And when my baby woke up the second time, I didn't even stop reading, because i was breastfeeding my baby, on the bed, in sleeping position, WHILE still reading the book. The situation pretty much describe how i was drowned into the story and didn't want to stop reading it until I finish it.I really love the way Ika Natassa write her books, and She did it again this time. She makes us, readers, drowned into each and every character. I smiled, laughed, worried, had teary eyes, cried, and happy along Anya and Ale's Journey, in her and his point of view. And following their journey, some of us will hate Anya, and some of us will hate Ale. But as for me, a wife and a mother, their character are very reasonably written. And I enjoyed it. The only downside of this book for me is, among of all Male character in Ika's books, for me Ale is the only one who doesn't have flaw. For other readers, the main topic of this book (i won't spoil it), will be Ale's flaw. But for me, it is very humane, and therefore in my eyes he has no flaw. And because Ale was pictured so perfectly, i have no doubt that many of #teambeno or #teamharris will fall for him. Speaking of Harris, i LOVE how Ika put him in the book. Who doesn't love Harris anyway? Hahaha... She put just the perfect amount of scenes of H & K, and it already is like an oasis in sahara for #teamharris. Overall, I really enjoyed this Critical Eleven (I even re-read again the last chapter this morning!). And I can't wait for Ika's next book.

  • OceMei Belikova♥
    2018-10-30 05:27

    Banyak yang bertanya buku ini bercerita tentang apa, dan sering kali aku menjawab buku ini lebih mengarah ke life after marriage. Itu singkatnya. All I could think about marriage is the sweetness, the endless love and passion. Tapi ternyata pernikahan enggak semudah membalikkan telapak tangan. Pernikahan juga berarti kita mempercayakan masa depan kita bersama pasangan kita. Apa kamu udah sanggup menyerahkan hati kamu untuk digenggam oleh dia yang bisa membawamu kelangit tertinggi atau menjatuhkanmu ke jurang yang paling dalam? "Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita. That you're only as happy as the least happy person in a relationship." pg 8Menikah setelah setahun berpacaran membuat Ale dan Anya masih begitu menikmati pernikahan mereka. Walaupun sudah berstatus suami isteri, namun terkadang mereka harus tinggal berpisah. Pekerjaan Ale di bidang pengeboran minyak di luar negeri membuatnya tidak leluasa untuk selalu berada disisi Anya. Namun yang namanya cinta mati, walau beda benua sekalipun tak jadi soal asal hati tetap satu kan? Tapi apa hanya dengan cinta mati aja sudah cukup??"Marriage is a little bit like gambling, isn't it? In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there's nothing sadder than that." - pg 152-153Lengkapnya di http://sikutubukuocemei.blogspot.com/...

  • Fairuz Hasna Karimah
    2018-10-25 04:43

    Saya selalu suka karya Ika Natassa. Setelah terakhir membaca Twivortiare 2, saya excited sekali begitu tahu Mbak Ika mau menerbitkan buku lagi. Waktu Critical Eleven terbit pertama kali, saya sedang tidak berada di Tanah Air untuk waktu yang cukup lama, jadi saya benar-benar ketinggalan momen euforia Critical Eleven bersama para pembaca lainnya... #kindofsad #hahaha. Singkat kata, saya akhirnya berhasil juga membaca buku ini.Saya suka konsep ceritanya, gaya penulisannya (selalu), juga dengan penggambaran tokoh-tokohnya yang "Ika Natassa banget". Saya juga suka covernya, hehehe. Untuk konfliknya sendiri, jujur saja ini bukan my cup of tea, in the sense that saya bukannya membatasi jangkauan konflik saya hanya pada konflik yang "sederhana" saja, tapi untuk saya pribadi, konflik ini saya rasa terlalu "berat". Mungkin ini ada hubungannya dengan saya yang belum terlalu dewasa... #kokjadicurhat. Hahaha, jika saya membaca ulang buku ini di kemudian hari, mungkin saya akan jatuh cinta habis-habisan pada buku ini, but now is not the moment I guess...Terlepas dari konflik batin saya tentang konflik buku ini, saya tetap cinta dengan Critical Eleven, meskipun tidakbelum habis-habisan. Saya nggak sabar baca karya Mbak Ika berikutnya.PS: Saya juga nggak sabar datang ke acara Talkshow & Meet and Greet Critical Eleven di Gramedia Grand Indonesia Sabtu ini. #excited #happy #sekalianpromosi #hahaha

  • owleeya
    2018-10-27 07:28

    Jangan pernah baca ini kalo lagi kerja, khususnya pekerjaan yang membutuhkan bertatap muka dengan klien.Padahal bilang aja jangan baca ini kalo lagi jaga toko, Ul.Iya, liburan tiga bulan ini saya habiskan dengan jaga toko baju Ibu di Baltos (BTW yang mau mampir beli baju buat pacar/istri/ibu/mertua/adik, silakan, dapet diskon kok kalo bilang situ temennya Aulia) dan mengikuti perbaikan nilai matkul yang C.Untung, di hari Jumat tanggal 14 Agustus ini, toko sepi. Untung maksudnya gak ada yang nanya, "Teteh kenapa?" ketika melihat mata saya yang merah dan hidung yang tidak berhenti mengeluarkan ingus.Udah, sekarang saya mau meratapi nasib kenapa gak ada laki-laki seperti Aldebaran Risjad di hidup saya ini. Plak. Lulus dulu sana, dapetin gelar ST dulu sana. (view spoiler)[Terus ya saya tiba-tiba inget di Twivortiare, Alexandra Rhea pernah tweet tentang suatu film, dan bertanya-tanya bagaimana jika hal di film itu menimpa dirinya dan Beno. Itu tuh semacam foreshadowing Ika Natassa, ya? (hide spoiler)]